Kapolda NTT Resmikan Revitalisasi MI Al-Hidayah di Pulau Kukusan, Salurkan Bantuan Pasca Gempa

Kapolda NTT Resmikan Revitalisasi MI Al-Hidayah di Pulau Kukusan, Salurkan Bantuan Pasca Gempa

MANGGARAI BARAT — Kepedulian Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Timur (Polda NTT) terhadap masyarakat terdampak gempa bumi Flores terus diwujudkan melalui aksi nyata. Kapolda NTT Irjen Pol. Dr. Rudi Darmoko, S.I.K., M.Si., meresmikan revitalisasi Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al-Hidayah sekaligus menyerahkan bantuan kemanusiaan kepada masyarakat dan tenaga pendidik di Pulau Kukusan, Kabupaten Manggarai Barat, Selasa (1/9/2026).

Kunjungan tersebut menjadi momentum penting bagi masyarakat Pulau Kukusan. Tidak hanya membawa bantuan untuk meringankan beban warga pascabencana gempa bumi, Kapolda NTT juga memastikan keberlanjutan perhatian Polri terhadap dunia pendidikan di wilayah kepulauan yang selama ini menghadapi keterbatasan fasilitas.

Dalam kunjungan tersebut, Kapolda NTT didampingi Ketua Bhayangkari Daerah NTT Ny. Vily Rudi Darmoko, Wakapolda NTT Brigjen Pol. Faizal, S.I.K., M.H dan sejumlah Pejabat Utama Polda NTT, serta Kapolres Manggarai Barat.

MI Al-Hidayah menjadi salah satu perhatian utama dalam kunjungan tersebut. Sekolah yang merupakan satu-satunya lembaga pendidikan di Pulau Kukusan itu berdiri sejak 2001 dan sebelumnya berada dalam kondisi yang cukup memprihatinkan.

Kondisi tersebut perlahan mulai berubah setelah Direktorat Polairud Polda NTT membantu melakukan revitalisasi terhadap dua ruang kelas pada Juni 2026. Dengan adanya perbaikan tersebut, kegiatan belajar mengajar yang sebelumnya sangat terbatas kini dapat berlangsung di empat ruang kelas.

Dari Belajar di Bawah Pohon hingga Ruang Kelas yang Lebih Layak

Kepala MI Al-Hidayah, Husen, menyampaikan bahwa perjuangan menyelenggarakan pendidikan di Pulau Kukusan tidak mudah. Dengan keterbatasan sarana dan tenaga pendidik, pihak sekolah tetap berupaya memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anak di pulau tersebut.

Saat ini MI Al-Hidayah memiliki 46 siswa dan empat orang tenaga guru.

Husen mengungkapkan, sebelum dua ruang kelas direnovasi, hanya dua ruangan yang dapat digunakan untuk kegiatan belajar mengajar. Kondisi tersebut membuat sebagian siswa harus belajar di ruang terbuka.

"Dulu sebelum direnovasi pada Juni 2026 oleh Direktorat Polairud Polda NTT, hanya dua ruangan yang difungsikan untuk belajar. Lainnya belajar di bawah pohon dan selalu terganggu oleh kambing," ungkap Husen.

Ia juga menyampaikan persoalan lain yang masih dihadapi sekolah, termasuk keterbatasan tenaga pendidik serta kualifikasi akademik guru.

"Kualifikasi pendidik di sini masih di bawah standar semua. Di mana saya sebagai kepala madrasah pun sampai hari ini masih kualifikasi non S-1, namun itu tidak membuat saya merasa bahwa saya tidak bisa, karena memang kalau tidak kami yang berjuang sebagai pendidik di sini, siapa lagi," ujarnya.

Semangat tersebut mendapat perhatian Kapolda NTT. Rudi mengakui masih terdapat sejumlah sekolah di wilayah NTT yang membutuhkan perhatian dan dukungan bersama.

"Kami memohon maaf. Ternyata masih ada sekolah-sekolah yang kondisinya seperti ini," kata Rudi.

Revitalisasi dua ruang kelas yang telah dilakukan menjadi langkah awal untuk menghadirkan ruang belajar yang lebih layak bagi anak-anak Pulau Kukusan. Kehadiran fasilitas pendidikan yang memadai diharapkan dapat memberikan kenyamanan sekaligus meningkatkan semangat siswa dalam menuntut ilmu.

Bantuan Pascagempa untuk Warga Pulau Kukusan

Selain meresmikan revitalisasi sekolah, kunjungan Kapolda NTT juga menjadi bagian dari rangkaian kepedulian Polri terhadap masyarakat Pulau Kukusan yang terdampak gempa bumi Flores.

Rombongan membawa dan menyerahkan bantuan berupa sembako, susu, mainan anak, serta perlengkapan sekolah bagi masyarakat dan tenaga pendidik.

Bantuan tersebut diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan masyarakat sekaligus memberikan dukungan moral kepada warga yang masih berada dalam proses pemulihan pascabencana.

Tidak hanya bantuan logistik, rombongan juga menggelar kegiatan trauma healing bagi anak-anak. Suasana penuh keakraban terlihat ketika anak-anak diajak bermain dan berinteraksi dalam kegiatan yang dirancang untuk mengurangi rasa takut serta kecemasan setelah mengalami bencana.

"Harapan kami, pasca gempa ini anak-anak tidak lagi trauma dan bisa kembali hidup normal sehingga bisa bersekolah lagi," ujar Kapolda NTT.

Polri Hadir hingga Wilayah Kepulauan

Kehadiran Kapolda NTT di Pulau Kukusan menunjukkan bahwa perhatian dan pelayanan Polri tidak berhenti di wilayah perkotaan. Masyarakat yang berada di wilayah kepulauan dan menghadapi keterbatasan akses juga menjadi bagian penting dari pelayanan kemanusiaan Polri.

Revitalisasi sekolah, bantuan kebutuhan pokok, perlengkapan pendidikan hingga trauma healing menjadi rangkaian kepedulian yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.

Bagi warga Pulau Kukusan, perhatian tersebut bukan sekadar bantuan material. Kehadiran langsung pimpinan Polda NTT membawa pesan bahwa mereka tidak berjalan sendiri menghadapi masa pemulihan pascagempa.

Sekolah yang kembali memiliki ruang belajar lebih layak menjadi simbol harapan baru bagi anak-anak Pulau Kukusan. Di tempat yang jauh dari pusat kota, mereka tetap memiliki hak yang sama untuk belajar, tumbuh dan mengejar cita-cita.

Melalui kunjungan tersebut, Polda NTT kembali menegaskan komitmennya untuk hadir di tengah masyarakat, terutama mereka yang terdampak bencana dan berada di wilayah dengan akses terbatas.

Dari Pulau Kukusan, semangat pemulihan itu kembali ditegaskan: bencana tidak boleh memutus harapan, keterbatasan tidak boleh menghentikan pendidikan, dan masyarakat tidak boleh merasa sendirian.

NTT Penuh Kasih, Polri untuk Masyarakat.